Jatuhnya Nilai Tukar Rupiah Karena Negara Dinilai Menyalahi Konsep Perekonomian Islam


PebisnisMuslim.Com - Ketua Dekan Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin menyatakan bahwa anjloknya nilai tukar rupiah saat ini karena negara menyalahi konsep perekonomian Islam.
“Jika urusan perekonomian negara dijalankan dengan prinsip ekonomi Islam, maka akan mendatangkan kebaikan dan keberkahan,” ungkap Didin di hadapan jamaah Masjid al-Hijri I Bogor, belum lama ini.
Menurut Didin, jika pekerjaan itu diurus oleh orang beriman, niscaya dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Sebab bagi orang yang beriman, apapun pekerjaannya hanyalah sebagai saran mengabdi kepada Allah dan berorientasi kepada Akhirat.
“Urusan ekonomi harus diurus dengan ajaran Islam dan orang-orangnya wajib shalat berjamaah di masjid semua,” ujar Didin mengingatkan.
Dengan demikian, lanjut Didin, menjadikan pemimpin sadar bahwa jabatannya adalah amanah umat dan bukan alat mengumpulkan kekayaan pribadi. Sebab tujuan semua pekerjaan dan aktivitas dunia adalah meraih ridha Allah semata.
Karena itu, Didin merasa heran dengan maraknya sejumlah pejabat yang justru berlomba mendapatkan ridha manusia dan lupa dengan ridha Allah.
“Heran lihat pemimpin yang takut sama Amerika. Padahal, Amerika itu negara bangkrut dengan utang yang menumpuk,” tegas Didin.
Menurut mantan Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) ini, dampak dari terpisahnya urusan ekonomi dan agama adalah umat Islam kian terpuruk dan tertinggal. Semua urusan diintervensi secara bebas oleh negara-negara asing. Belum lagi Indonesia kini mulai diserbu oleh pengusaha asing dan dijejali dengan ribuan pekerja asing.
“Ini semua akibat dari pekerjaan yang tidak berorientasi akhirat. Akibatnya semua hanya untuk kepentingan dunia saja,” cetus Didin.
Lebih lanjut, Didin mengingatkan umat Islam tentang persepsi yang keliru terhadap harta dan kekayaan. Sejatinya tak ada dikotomi antara kekayaan dan ketakwaan. Umat Islam tak dilarang kaya bahkan Islam harus mengusai seluruh lini kehidupan.
“Kuasai dunia dalam genggaman dan jangan masukkan ke dalam hati. Sebab kaya dan takwa bukan dua hal yang bertentangan dalam kehidupan,” tegas Didin.
Didin mengajak untuk membangkitkan kembali izzah umat Islam dengan kembali kepada syariat Islam. Generasi sahabat menurutnya adalah potret teladan dalam menyikapi kehidupan dunia. Mereka disebutkan memiliki kekayaan yang banyak tapi tidak memalingkan mereka dalam urusan ibadah kepada Allah
“Silakan berdagang di pasar-pasar tapi jangan lupa shalat berjamaah di masjid,” pungkas Didin.

Sumber: Hidayatullah
Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

PebisnisMuslim.com adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar