Investree Salurkan Pembiayaan Syariah Rp 20 Miliar

JAKARTA -- Perusahaan financial technology (fintech) Investree telah menyalurkan pembiayaan berbasis syariah sebesar Rp 20 miliar hingga Juli 2018. Porsi pembiayaan syariah ditargetkan sebesar 20 persen dari total pembiayaan yang disalurkan Investree.
Co-Founder & CEO Investree, Adrian Gunadi, mengatakan, sampai dengan Juli 2018, penyaluran pembiayaan syariah di Investree sudah mencapai hampir Rp 20 miliar. Dari total penyaluran pembiayaan sampai dengan Juli 2018 porsi Investree Syariah adalah sekitar 3-4 persen
"Target kami sampai akhir tahun 2018 penyaluran pembiayaan syariah kurang lebih Rp 100 miliar,"kata Adrian saat dihubungi Republika akhir pekan kemarin.
Adrian menjelaskan, pembiayaan Syariah (Investree Syariah) paling banyak disalurkan untuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di wilayah Jawa Timur mencapai 90 persen. Kemudian sisanya 10 persen disalurkan di area Jabodetabek.
Menurut Adrian, minat masyarakat sangat tinggi untuk menjadi Lender pembiayaan Investree Syariah. "Berdasarkan data yang kami miliki, kurang lebih 60 persen Lender Konvensional yang sudah terdaftar di Investree tertarik dan membuka akun Lender Syariah," ungkapnya.
Adrian menambahkan, ke depan, Investree memiliki beberapa target. Pertama, Investree menargetkan pertumbuhan pembiayaan syariah dari segi angka.
Investree ingin meningkatkan jumlah penyaluran pembiayaan syariah sebesar 20 persen dari total target penyaluran per tahun. Target, berikutnya dari segi komunikasi. Caranya, melalui edukasi dan sosialisasi di banyak kesempatan dengan target khalayak yang beragam, mulai dari mahasiswa hingga pelaku usaha.
Selain itu, Investree juga ingin mengubah citra produk pembiayaan syariah yang selama ini dianggap kuno. "Ternyata saat ini sudah ada produk pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah dan dijual secara digital, sehingga aksesnya bisa lebih mudah dan lebih cepat," ucapnya.
Investree Syariah dinilai sebagai salah satu produk yang aman, mudah, dan terpercaya. Sebab, telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan mendapatkan Surat Rekomendasi dengan Nomor U-492/DSN MUI/VIII/2017 yang menetapkan Profesor AH Azharuddin Lathif sebagai Penasihat Teknis Syariah Khusus untuk Investree dari Dewan Syariah Nasional –Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).
Head of Institutional Relationship & Investree, M Reza Aulia, menambahkan, Investree akan menyasar segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang tidak mendapatkan akses modal ke lembaga keuangan tradisional dan ingin mendapatkan produk yang sesuai prinsip syariah. Dari segi wilayah, Investree berniat melebarkan sayap ke daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah sesuai dengan lokasi perwakilan Investree yang berada di wilayah-wilayah tersebut.
"Namun tidak memungkinkan untuk menengok potensi wilayah lain seperti Makassar, Medan dan juga Balikpapan," terangnya.
Saat ini, Investree telah menggarap segmen Business-to-Business dengan menghadirkan Pembiayaan Usaha Syariah berskema Invoice Financingserta segmen Business-to Consumer dengan menghadirkan Sharia Online Seller Financing.
Pembiayaan Usaha Syariah merupakan pengajuan pembiayaan dengan menggunakan tagihan (invoice) yang sedang berjalan berdasarkan prinsip syariah. Sedangkan Sharia Online Seller Financing merupakan pinjaman tunai jangka pendek untuk toko online yang sesuai dengan prinsip syariah.
Secara terpisah, Co-Founder Investree, Amiruddin, menyebutkan, secara akumulatif dari Mei 2016 sampai sekarang Investree telah menyalurkan pembiayaan total Rp 1,1 triliun. Investree memiliki empat produk. Keempatnya yakni, invoice financingonline seller financingmerchant cash advance, serta employed loan.
Porsi terbesar disalurkan untuk produk invoice financing yang mencapai 90 persen dari total pembiayaan. Invoice financing menyasar borrowersegmen medium yang memiliki omzet sampai Rp 15 miliar dengan nominal pinjaman Rp 300 juta sampai Rp 400 juta.
Sedangkan online seller financing rata-rata pinjaman Rp 4 juta disalurkan untuk UMKM yang tergabung dalam e-commerce yang telah bekerja sama dengan Investree. Antara lain, Bukalapak, Tokopedia, Lazada dan Mataharimall.
Produk merchant cash advance, Investree menyalurkan pembiayaan kepada e-commerce yang medium. Kemudian produk employed loan, Investree bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan dimana para pegawai perusahaan tersebut bisa meminjam di Investree.
"Ke depan, penyaluran ke produk online seller financing akan lebih besar. Mudah-mudahan meningkat lebih dari posisi sekarang," terang Amiruddin.
Pembiayaan syariah di Investree baru disalurkan melalui dua produk yakni invoice financing dan online seller financing. Untuk produk online seller financing menggunakan akad murabahah. Sedangkan invoice financing menggunakan akad qard dan wakalah bi ujrah.

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID
Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

PebisnisMuslim.com adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar