Biofuel Opportunity in The Middle Oil Price War

Beberapa hari ini setelah digoncang wabah Korona, ekonomi dunia juga digoncang oleh anjloknya harga minyak mentah dunia yang kini tinggal di kisaran USD 30 per barrel. Pemicunya adalah tidak tercapainya kesepakatan tingkat produksi antara negara-negara pengekspor minyak dunia.

Anjloknya harga minyak ini dampaknya tentu sangat luas terhadap ekonomi negara-negara di dunia karena hanya Arab Saudi dan beberapa Negara Teluk saja yang masih bisa menikmati keuntungan dari tingkat harga minyak tersebut di atas. Negara-negara produsen minyak yang lain akan babak belur karena lifting cost nya jauh diatas harga pasar saat ini.

Dampak serius juga akan memukul upaya untuk menghasilkan energi baru dan terbarukan, paling tidak secara ekonomis pasti para pengambil keputusan sangat terpengaruh oleh rendahnya harga minyak mentah dunia saat ini bila dibandingkan dengan segala kesusahan dan biaya yang perlu dikeluarkan untuk upaya pencarian energi baru terbarukan.

Tetapi apakah dengan demikian peluang energi baru terbarukan menjadi hilang dan terabaikan dan nanti sekian tahun lagi dari sekarang kita akan dikejutkan dengan langkanya minyak fosil dan saat itu kita tidak siap dengan alternatifnya? Saya mempunyai sudut pandang yang berbeda.

Bahkan ketika harga minyak jatuh sekarang pun, energi baru terbarukan khususnya biofuel dari tanaman-tanaman yang tumbuh di negeri ini masih bisa sangat bersaing dengan harga minyak yang sangat rendah sekali pun.

Paling tidak saya melihat ada Long Tail Market yang terlupakan di dalam ekonomi bahan bakar ini. Long Tail ini seperti yang ditunjukkan di grafik berikut bukanlah bagian terbesar dari pasar yang ada, tetapi kalau diakumulatifkan bisa jadi dia masih sangat besar. Dalam pasar bahan bakar di Indonesia yang saya lihat Long Tail ini adalah daerah-daerah dan pulau-pulau terpencil atau pulau-pulau kecil di Indonesia.

Pulau-pulau kecil ini jumlahnya belasan ribu di Indonesia, karena dari 13 ribuan pulau yang ada di negeri ini, yang kita kenal sebagai pulau besar hanya belasan saja. Selebihnya bahkan kita juga tidak mengenal namanya. Pulau Sebaru misalnya, kita baru mengenal setelah dia dijadikan tempat karantina orang-orang yang dikhawatirkan membawa virus Korona.

Tempatnya yang hanya ada di teluk Jakarta pun kita sudah tidak mengenal pulau tersebut sebelumnya. Jadi bisa dibayangkan betapa banyaknya pulau-pulau kecil di Indonesia yang perlu kita layani dalam pemenuhan kebutuhan bahan bakarnya ini.

Bahkan di pulau besar sekali pun, seperti di Irian dan Sulawesi, untuk mengirim bahan bakar ke daerah-daerah terpencilnya, kadang harus digunakan pesawat terbang untuk mengangkutnya. Bisa dibayangkan berapa ongkos minyak tersebut sampai di lokasi. Siapapun yang menanggung biaya subsidi ini, pasti tidak ingin berkelanjutan terus menerus menanggungnya.

Lantas dimana peluangnya biofuel ditengah harga minyak yang sangat rendah saat ini? Asumsinya harga minyak mentah dunia ini USD 30 per barrel atau sekitar Rp 2.640,- per liter. Untuk menjadi bahan bakar yang dibutuhkan daerah-daerah yang saya sebut Long Tail tersebut, yaitu daerah-daerah dan pulau-pulau terpencil, harus ditambahkan selain biaya proses menjadi bahan bakar juga biaya transportasinya yang bisa sangat mahal. Hitungan saya sampai ke daerah dan pulau kecil, ongkos totalnya bisa mencapai Rp 10.000 - Rp 15.000 per liter.

Disisi lain kalau kita gerakan masyarakat setempat menanam tanaman penghasil minyak seperti nyamplung (Calophyllum inophyllum) misalnya, hitungan saya biaya produksi sampai menjadi minyak berada di kisaran Rp 3.500 per liter sudah menjadi bahan bakar di lokasi yang terpencil sekali pun.

Ini karena minyak nyamplung bersal dari buah tanaman yang sangat mudah tumbuh di seluruh wilayah Indonesia, termasuk pulau-pulau terpencil yang mayoritas tanahnya berpasir sekali pun. Dengan minyak nyamplung yang diproduksi di lokasi sampai siap menjadi bahan bakar, maka tidak diperlukan lagi ongkos transportasi yang berarti untuk bahan bakar yang satu ini.

Kelebihan lainnya adalah produksinya akan melibatkan masyarakat setempat, memanfaatkan lahan-lahan yang selama ini idle, sehingga bahan bakar biofuel dari nyamplung ini bisa tiba-tiba menjadi sumber kemakmuran di daerah dan pulau-pulau terpencil yang sejak Indonesia merdeka 75 tahun lalu hingga kini amat sangat sulit dibangkitkan ekonominya.

Kelebihan lain dengan pendekatan ini adalah bila daerah dan pulau-pulau terpencil sekali pun bisa dibuat mandiri energi, nantinya masyarakat yang tinggal di pulau-pulau besar dan masyarakat pekrotaan justru akan bisa bejalar dari mereka ini. Bila saudara-saudara kita yang tinggal di daerah dan pulau-pulau terpencil sekali pun bisa mandiri energi, mengapa tidak kita yang tinggal di pulau-pulau dan bahkan kota-kota besar yang dengan segala macam fasilitasnya harusnya bisa lebih banyak berbuat.

Inisiatif biofuel dari minyak nyamplung atau tamanu oil ini sudah bukan hanya milik kita di Indonesia. Melalui gerakan yang kami sebut FEW Asia Initiative ( http://bit.ly/FEWASIA ) gerakan ini telah melibatkan sejumlah pihak di berbagai neagra. Mesin-mesin yang akan kami gunakan pun telah selesai di desain oleh saudara-saudara kita di Bangladesh dan kita tinggal memproduksinya disini.

Jadi ketika seluruh Asia akan shorted minyak sekitar 6 juta barrel per hari, lima tahun mendatang kita akan punya solusinya bila kita mengambil langkah yang tepat saat ini yaitu mulai menanam nyamplung, karena tanaman kita insyaAllah sudah akan mulai berbuah 4 tahun dari sejak ditanam. Lantas bagaimana desa-desa dan daerah-daerah bergerak melakukan ini ?

Menanam nyamplung tidaklah sulit dan tidaklah mahal. Dengan dana desa yang selama ini dibagikan oleh pemerintah pusat, desa setempat bisa menggunakan sebagiannya untuk menanam ini dan membiayai perawatannya di tahun pertama sampai ketiga. Di awal tahun keempat, desa setempat menggunakan sebagian dananya untuk menyiapkan mesin-mesin pengolah minyak sampai pembangkit listriknya dari anggaran desa tahun ke empat tersebut.

Pada tahun kelima, seluruh biaya yang dibutuhkan insyaAllah sudah akan tercukupi dari hasil tanaman nyamplung tersebut. Mulai tahun kelima tersebut, desa-desa sudah bisa swasembada energi listrik ini dan sudah bisa terlibat aktif dalam ekonomi bahan bakar. Mereka bisa menjadi model kemandirian energi-energi ini di masa yang akan datang.

Bagaimana untuk desa-desa atau bahkan penduduk kota-kota yang listriknya sudah tersedia? Tidak masalah juga karena minyak adalah bentuk stored energy yang paling fleksibel penggunannya. Dia bisa disimpan dengan murah dan bisa diubah menjadi energi lain pun dengan mudah.

Yang tidak digunakan untuk pembangkit listrik misalnya, bisa untuk menggerakkan traktor-traktor pertanian dan mesin-mesin industri dimana pun dia berada. Dia bisa menjadi bahan bakar untuk kapal-kapal yang sangat diperlukan untuk mengolah kekayaan Indonesia lainnya yaitu kekayaan dari hasil laut. Pendek kata, tidak ada ruginya bagi masyarakat yang bisa menanam dan bisa menghasilkan minyak atau energinya sendiri. []

Sumber: Gerai Dinar
Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

PebisnisMuslim.com adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar