Produk Ekspor Halal Unggul Datang dari Laut

Bank Indonesia (BI) telah merilis Laporan Ekonomi dan Keuangan Syariah 2019. Dalam laporan tersebut, nilai ekspor bahan makanan halal pada 2019 mencapai 29,8 miliar dolar AS atau mengalami penurunan sebesar 7,6 persen dibandingkan dengan 2018 yang totalnya mencapai 32,3 miliar dolar AS.

Hal tersebut tidak terlepas dari volume perdagangan dunia yang mengalami kontraksi akibat kebijakan ekonomi berorientasi domestik yang berlanjut di banyak negara.

Kendati demikian, prospek ekspor produk halal Indonesia masih terbuka lebar. Saat ini, komoditas unggulan ekspor makanan nonharam Indonesia masih didominasi oleh komoditas berbasis minyak kelapa sawit dan kelapa. Akan tetapi, komoditas tersebut memiliki tingkat kemiripan produk yang tinggi dengan kompetitor di pasar internasional. 

Sementara itu, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dengan tingkat kemiripan produk dengan kompetitor yang relatif rendah untuk produk perikanan. Beberapa komoditas yang prospektif yaitu kepiting dan rumput laut. Komoditas makanan halal yang juga memiliki potensi ekspor yang tinggi adalah ikan tuna. Sementara itu, ekspor udang siap masak juga memiliki potensi tinggi karena relatif tidak memiliki tingkat kemiripan yang tinggi dengan produk kompetitor.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyambut baik laporan BI tersebut. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PSDPKP) KKP Nilanto Perbowo mengatakan, dalam Alquran surah al-Maidah ayat 96 disebutkan, ikan merupakan makanan yang halal dan bermanfaat bagi yang mengonsumsinya.

"Dengan kandungan gizi yang lengkap, ikan memiliki peran penting bagi ibu hamil, seribu hari pertama kehidupan (HPK), perkembangan otak anak-anak di bawah usia dua tahun (baduta), usia remaja, serta lanjut usia," ujar Nilanto saat dihubungi Republika di Jakarta, Kamis (28/5).

Tak hanya untuk kebutuhan dalam negeri, produk ikan Indonesia juga memiliki potensi besar untuk pasar internasional. Nilanto menyampaikan, KKP terus mendorong peningkatan ekspor ikan melalui partisipasi pameran internasional dan pemasaran produk di pasar tradisional dan nontradisional, diplomasi penanganan hambatan tarif dan nontarif, pemenuhan persyaratan ekspor negara tujuan, serta kerja sama market intelligence.

"Data ekspor April 2020, semuanya positif dan naik dibandingkan April 2019. Impor mengalami penurunan, bagus berarti. Lima komoditas utama ekspor produk perikanan Indonesia adalah udang, tuna-cakalang, cumi-sotong-gurita, rajungan-kepiting, dan rumput laut," ucap Nilanto. 

Nilanto memerinci, nilai ekspor pada periode Januari hingga April 2020 tercatat sebesar 1,68 miliar dolar AS atau naik 10,29 persen dibandingkan periode Januari-April 2019. Sementara, nilai impor pada periode yang sama tercatat 0,14 miliar dolar AS atau turun 1,24 persen. Dengan begitu, neraca perdagangan tercatat surplus 1,54 miliar dolar AS atau naik 11,49 persen.

Nilanto memerinci kinerja ekspor lima komoditas utama pada periode Januari-April 2020 meliputi udang sebesar 648,72 juta dolar AS atau 38,67 persen terhadap total, tuna-cakalang sebesar 242,56 juta dolar AS atau 14,46 persen terhadap total, cumi-sotong-gurita sebesar 164,93 juta dolar AS atau 9,83 persen terhadap total, rajungan-kepiting sebesar 128,20 juta dolar AS atau 7,64 persen terhadap total, dan rumput laut sebesar 84,72 juta dolar AS atau 5,05 persen terhadap total.

Nilanto menyampaikan negara tujuan ekspor bervariasi tergantung jenis komoditas. Untuk periode Januari hingga April 2020, ekspor udang terbesar dikirim ke Amerika Serikat sebesar 68,43 persen dan Jepang sebesar 16,06. Untuk Tuna-Cakalang juga dipegang AS dengan 31,78 persen disusul, Jepang sebanyak 18,53 persen, 17,03 persen sisanya dari Asean. AS juga menempati posisi teratas untuk ekspor Rajungan-Kepiting sebanyak 79,23 persen dan Jepang sebanyak 5,33 persen. Sementara ekspor Cumi-Sotong-Gurita tertinggi berada di Cina dengan 41,35 persen, Asean sebanyak 23,64 persen, dan Uni Eropa dengan 11,16 persen. Cina juga menjadi negara tertinggi untuk ekspor rumput laut Indonesia dengan 62,64 persen dan 13,73 persen sisanya ke Uni Eropa.

Nilanto mengatakan, pandemi Covid-19 turut memengaruhi kondisi permintaan produk ikan dari Indonesia terutama untuk tujuan seperti restoran, hotel, dan catering. Namun, menurut Nilanto, kenaikan ekspor saat ini justru terjadi di pasar ritel. Ia menyebutkan, beberapa negara produsen banyak yang tidak dapat memenuhi permintaan negara tujuan ekspor karena adanya kebijakan lockdown dan banyak yang tidak melakukan produksi.

"Peluang ini dimanfaatkan oleh Indonesia untuk mengisi pasar-pasar tersebut," kata Nilanto.[]

Sumber: Republika

Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

PebisnisMuslim.com adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar