Keuangan Syariah Indonesia Mampu Bertahan

JAKARTA -- Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menyampaikan, dampak wabah Covid-19 pada keuangan syariah Indonesia diperkirakan lebih minimal dibandingkan sejumlah negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) lainnya. Sejumlah indikator menunjukkan, keuangan syariah Indonesia masih bisa tumbuh lebih baik.

Direktur Pendidikan dan Penelitian Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat menyampaikan, kinerja sektor keuangan syariah Indonesia lebih positif, terutama tecermin dalam indikator indeks pasar modal syariah serta pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). "Memang semua negara terdampak, tapi kondisi Indonesia masih lebih baik," katanya dalam konferensi pers virtual, Kamis (4/6).

Informasi tersebut tertuang dalam laporan yang diluncurkan KNEKS bersama Dinar Standard terkait dampak Covid-19 kepada keuangan syariah di mayoritas negara-negara OKI. Laporan ini menyajikan analisis data dan perspektif dari para pelaku industri beserta analisis di 12 negara OKI yang merepresentasikan 87 persen aset keuangan syariah global.

Laporan yang dapat diunduh di laman Salaam Gateway menunjukkan kondisi 12 negara Islam dari negara Teluk, Asia Tenggara, Afrika, dan Asia Tengah. Laporan tersebut menyajikan data pertumbuhan PDB 2020 di negara-negara OKI yang diproyeksi merosot. Seluruh negara tersebut merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhannya.

Turki yang sebelumnya yakin mampu tumbuh 3 persen tahun ini diperkirakan justru akan mengalami kontraksi sebesar 5 persen. Arab Saudi juga diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 2,3 persen dari proyeksi awal tumbuh 1,9 persen. Sementara, Indonesia masih diproyeksi tumbuh positif 0,5 persen dari proyeksi awal 5,1 persen.

"Secara fundamental, kondisi kita masih bagus. Di antara negara Asia, ekonomi Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif," katanya.

Sementara itu, dari indeks pergerakan bursa saham negara OKI, Emir menyampaikan, Indonesia juga mencatat performa paling baik, diikuti oleh Bahrain dan Bangladesh di kala pandemi. Menurut data indeks JII, dalam rata-rata lima bulan terakhir masih mencatat pertumbuhan 0,27 persen. Sementara, Bahrain dan Bangladesh mencatat pertumbuhan rata-rata masing-masing 0,25 persen.

Pertumbuhan sukuk negara-negara OKI juga diproyeksi turun. Sukuk index returns per Desember 2019 hingga April 2020 menunjukkan penurunan dengan puncak pada Maret menjadi kontraksi 0,32 persen.

S&P Ratings memproyeksikan penerbitan sukuk turun dari 162 miliar dolar AS pada 2019 menjadi 100 miliar dolar AS pada 2020. Nilai outstanding sukuk secara global pada 2019 sendiri tercatat sebesar 574,1 miliar dolar AS, naik dari 2018 yang sebesar 454,5 miliar dolar AS.

Wabah Covid-19 dapat menjadi momentum untuk negara-negara Islam menerbitkan sukuk dalam membantu pemulihan ekonomi. Menurut laporan Islamic Finance Development Indicator (IFDI) tahun 2019, aset keuangan syariah global pada 2018 tercatat 2,5 triliun dolar AS.

Direktur Bidang Hukum, Promosi, dan Hubungan Eksternal KNEKS Taufik Hidayat menambahkan, kondisi ekonomi syariah Indonesia yang lebih baik ini dapat dimanfaatkan untuk menjaring investasi dan kolaborasi. Fundamental pasar modal juga pasar keuangan Indonesia sangat menarik bagi para investor global.

"Kita cari opportunity di investasi. Karena fundamental masih kuat tapi undervalue, ini akan jadi satu keuntungan untuk investor," kata dia.

KNEKS telah mengajukan sejumlah rekomendasi terkait investasi sektor keuangan syariah baik jangka pendek maupun jangka panjang. Rekomendasi telah diajukan kepada pemerintah melalui Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin yang juga ketua harian KNEKS. []

Sumber: Republika
Share on Google Plus

About PebisnisMuslim.com

PebisnisMuslim.com adalah situs informasi bisnis dan ekonomi Islam yang dikelola oleh Pebisnis Muslim Group.

0 komentar:

Posting Komentar